-->

Menghadapi Perkembangan Bayi 9 Bulan Namun Belum Merangkak


Semakin bertambah usia, si kecil akan semakin lincah. Ia akan aktif merangkak dan pelan-pelan belajar berdiri serta berjalan. Meski begitu, kecepatan tumbuh kembang bayi sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Maka tidak heran jika perkembangan bayi 9 bulan terkait kemampuan merangkak juga tidak sama. Biasanya ada kemampuan lain yang lebih dulu berkembang dari si anak. 

Merangsang Kecerdasan Motorik untuk Perkembangan Bayi 9 Bulan

Beberapa permainan berikut dapat Bunda lakukan dengan anak untuk merangsang kecerdasan motoriknya di usia 9 bulan.

Bermain Mini Drum

Untuk bermain mini drum, diperlukan satu set mini drum lengkap dengan stiknya.

Cara bermainnya mudah. Dudukkan si kecil menghadap drum set dan berikan stik padanya. Arahkan tangannya untuk memukul drum itu dengan ritme tertentu. Buat ritme yang menyeimbangkan porsi gerak kedua tangannya. Jika sudah terbiasa, biarkan ia bermain sendiri. 


Bermain Gelinding Bola

Untuk permainan ini, Bunda membutuhkan bola-bola berukuran sama dan wadah yang permukaannya datar.

Cara bermainnya cukup sederhana. Bola diletakkan di atas wadah, kemudian dorong agar mengelilingi pinggiran wadah. Lalu dorong bola ke sembarang arah secara perlahan dan hentikan gerakan bolanya. Letakkan tangan anak di atas bola tersebut dan bantulah ia melakukan permainan itu sampai lancar.

Bermain Kerincing Goyang

Untuk permainan ini, dibutuhkan kerincingan bayi.

Cara bermainnya sederhana. Genggamkan kerincingan ke tangan anak. Duduklah di belakangnya dan ajarkan ia untuk menggoyangkan kerincing itu bergantian. Jika sudah bisa, biarkan ia mencoba sendiri.

Tips Perawatan untuk Perkembangan Bayi 9 Bulan Ke Atas

1. Mulai sering membacakan buku/dongeng sederhana dan mengenalkan berbagai benda melalui gambar. Bunda juga bisa mengenalkan sesuatu melalui bunyinya.
2. Mengajaknya berbicara dari jarak tertentu.
3. Memastikan tempat bermainnya, baik di luar maupun di dalam rumah aman.
4. Tidak perlu memakaikan sepatu dan kaos kaki terlalu sering agar perkembangan ototnya optimal.
5. Ajak ia bermain bersama bayi lain agar sosialisasinya semakin baik.
6. Ajak ia bercanda, misal dengan menggelitik tubuhnya. Sesekali bisa juga diberkan pijatan bayi agar ia merasa rileks.
7. Berikan permainan yang melatih keterampilan tangannya.
8. Mulai kenalkan bagian-bagian tubuhnya.
9. Untuk melatih kehati-hatian, Bunda bisa memberi sedikit jarak ketika ia tengah bermain. Biarkan ia belajar melakukan sendiri apa yang diinginkan.
10. Jika ia sudah mulai belajar berjalan, bantu ia dengan memegangi tangannya ketika tengah belajar.

Perkembangan Bayi 9 Bulan Tapi Belum Bisa Merangkak

Untuk bisa merangkak, seorang anak harus melewati tahapan berikut.

1. Jika ia sudah bisa duduk, maka akan berlatih untuk posisi merangkak.
2. Ketika sudah pada posisi merangkak, ia akan bergerak maju mundur di tempat.
3. Perlahan ia mulai merangkak ke depan.
4. Bila sudah lancar, ia akan belajar untuk kembali ke posisi duduk.
5. Jika pada usia 9 bulan si kecil belum bisa merangkak, kemungkinan si kecil memang mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Hal yang menyebabkan ini beragam, salah satunya adalah kurangnya stimulasi dari orang tua.

Perlu diketahui bahwa terlalu sering menggendong anak juga kurang baik. Meski bukan penyebab pasti keterlambatan tersebut, namun sebaiknya ada keseimbangan antara menggendong dengan menurunkan anak. 

Bila terlalu sering digendong, waktu anak untuk mengembangkan keterampilan motoriknya sangat terbatas. Hal ini bisa mengakibatkan perkembangan ototnya tidak maksimal. Tidak ada salahnya untuk membiarkan anak berada di lantai, agar ia segera belajar merangkak. Namun jangan lupa untuk memastikan bahwa tempat sekelilingnya aman untuk anak belajar ya Bunda. 

Menghadapi perkembangan bayi 9 bulan memang harus penuh kesabaran, terlebih jika ada keterlambatan salah satu perkembangannya. Jika Bunda merasa khawatir, jangan tunggu waktu untuk konsultasikan ke dokter ya.
read more →

Janin 38 Minggu, Sudahkah Waktunya Lahir?

Janin 38 Minggu

Memasuki usia kehamilan 38 minggu bunda pasti merasa sangat bahagia dan tidak sabar menunggu kehadiran sang buah hati. Tapi, apakah janin 38 minggu sudah waktunya lahir? Nanti dulu bunda, di usia kehamilan ini bunda mungkin akan merasakan keluarnya lendir dari vagina. Kondisi ini disebabkan sumbat lendir yang menutupi rahim terbuka. Hal ini juga menjadi pertanda masa kehamilan akan segera berakhir. Tapi bukan berarti persalinan akan segera terjadi ya Bun!

Apakah Bunda Harus Sering Berkonsultasi Ke Dokter?


Pada usia ini adalah waktu yang sangat cukup untuk melahirkan, bisa kurang atau lebih dari waktu ini, maka bunda harus mulai berkonsultasi dan menyiapkan untuk persalinan. Coba konsultasikan ke rumah sakit bersalin atau ke dokter spesialis kandungan untuk melihat posisi bayi ketika melahirkan.

Kapankah Bunda Akan Melahirkan?


Janin 38 minggu lahir, apakah normal? Itu normal ya Bun! Setiap ibu hamil bisa saja melahirkan sebelum atau sesudah masa perkiraan persalinan oleh dokter. Pemantauan tumbuh kembang janin juga akan tetap dilakukan meskipun masa HPL-nya sudah lewat dari 38 minggu. 

Bagaimana Kondisi Bunda dan Bagaimana Perkembangan Janin 38 Minggu 



Saat usia kehamilan 38 minggu tumbuh kembang janin bunda sudah mencapai 3,2 kilo dengan panjang sekitar 45 cm. Berat badan janin ini pun akan terus bertambah sampai tiba waktunya persalinan. Selain itu janin juga sudah mulai bisa menelan cairan kebutan Bunda loh! Ini disebabkan otot-otot pada mulut janin sudah sempurna. 

Paru-paru si kecil juga semakin dewasa dan berada pada tahap penyempurnaan fungsi. Sementara untuk detak jantungnya berada diantara 120-160 denyutan permenit. Karena ukuran janin semakin meningkat, posisi siku serta lututnya pun tertekuk. Tali pusarnya sudah sebesar 53 cm dengan panjang kira-kira 30,48-99 cm, dan pusar tersebut menempel pada plasenta.  

Perkembangan janin 38 minggu lain yang dapat diamati yaitu bertambahnya bertambahnya lemak dalam tubuh janin. Bunda juga akan mulai merasakan gerakan ketika bayi cegukan. Pengalaman yang tidak terlupakan ya Bun!

Banyak Pertanyaan yang Biasanya Bunda Lontarkan Mengapa? Inilah Beberapa Perubahan Pada Tubuh Bunda 



Semakin mendekati proses persalinan, tubuh bunda akan mengalami beberapa perubahan yang signifikan. Lantaran pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan yang cukup pesat. Berikut gejala atau perubahan yang bisa terjadi pada tubuh bunda!

Braxton Hiks atau Kontraksi Palsu


Mendekati masa-masa persalinan, bunda akan lebih sering mengalami kontraksi palsu. Kontraksi palsu ini merupakan salah satu cara bagi tubuh untuk menyesuaikan dan berlatih menghadapi kontraksi sebenarnya saat proses persalinan. Umumnya braxton hiks ditandai dengan kram perut dan perut terasa kencang. Jika bunda merasakan sakit pada bagian perut tapi hilang saat berganti posisi, bisa jadi itu merupakan salah satu gejala kontraksi palsu.

Perut Gatal


Memasuki trimester terakhir, bunda akan mulai merasakan gatal di area sekitar perut. Kondisi ini terjadi karena kulit perut bunda akan semakin sensitif. Untuk mencegahnya bunda bisa mengkonsumsi air putih agar perut lebih lembab dan tidak menimbulkan rasa gatal. Selain itu bunda juga bisa menggunakan pelembab yang aman bagi janin dalam kandungan untuk mencegah kulit kering. 

Apabila cara-cara tersebut tidak membuahkan hasil bahkan sampai membuat ruam kemerahan, segera konsultasikan ke dokter ya Bun!

Keputihan


Selain rasa gatal pada perut, bunda akan mengalami keputihan dengan intensitas cukup banyak. Keputihan di trimester terakhir atau di usia janin 38 minggu itu normal ya Bun, selama keputihan tidak berwarna kehijauan, merah, hitam dan tidak memiliki bau. Terajadinya keputihan menjadi tanda leher rahim siap membuka untuk menghadapi proses melahirkan. 

Kaki Bengkak


Pembengkakan kaki di trimester terakhir terjadi bukan tanpa alasan loh. Salah satu penyebabnya yaitu bertambahnya volume darah bunda menjelang proses persalinanMenjelang waktu melahirkan, kaki dan betis bisa membengkak. Pembengkakan ini terjadi bukan tanpa alasan. Nah, untuk mengatasi pembengkakan kaki, bunda bisa melakukan kegiatan seperti rutin jalan-jalan atau menjaga cairan dalam tubuh mengalir dengan lancar. 

read more →

Mencari Tahu Perkembangan Bayi 9 Bulan yang Belum Tumbuh Gigi


Salah satu hal yang menjadi perkembangan bayi 9 bulan adalah mulai tumbuh gigi, meski belum sempurna. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka mulai bisa memakan makanan yang teksturnya sedikit keras. Namun terkadang ada juga bayi yang giginya belum tumbuh meski sudah memasuki usia 9 bulan. Jika sudah begini, bagaimana Bunda harus menyikapinya? 

Makanan untuk Perkembangan Bayi 9 Bulan

Sebelum membahas mengenai kenapa bayi 9 bulan belum tumbuh gigi, mari membahas dahulu makanan yang tepat untuk si kecil. Apa saja makanan yang bisa diberikan saat si kecil berusia 9 bulan?

ASI tetap diberikan, namun anak juga sudah bisa menerima makanan lainnya. Bunda bisa memberikan MPASI yang sesuai usianya. Jangan lupa untuk memperhatikan reaksi dari makanan tersebut terhadap anak.

Di usia 9 bulan, bayi sudah bisa memegang dan memasukkan makanan ke mulutnya sendiri. Bunda bisa memberikan makanan, seperti biskuit bayi, pisang, atau sereal kepada si kecil. 

Sekarang si kecil sudah bisa menerima makanan yang kandungan proteinnya tinggi, misalnya telur, ikan, bubur kacang hijau atau sayuran. Sebelum diberikan, masak jenis makanan tersebut dengan baik ya Bunda, agar bisa dikunyah olehnya.

Memahami Perkembangan Bayi 9 Bulan yang Belum Tumbuh Gigi

Perlu diketahui bahwa perkembangan gigi pada bayi bersifat genetik, sehingga wajar jika waktuya berbeda-beda. Jika dulu pertumbuhan gigi orang tuanya cepat, maka bisa terjadi kemungkinan bayinya juga tumbuh gigi lebih cepat. 

Biasanya gigi pertama bayi akan tumbuh di rentang usia 5-10 bulan, dan rata-rata di usia 6-7 bulan. Pertumbuhan gigi bayi ini baru lengkap ketika memasuki usia 2-3 tahun. Kemudian secara bertahap berganti gigi dewasa hingga usianya 12 tahun. 

Oleh karena itu, sebenarnya Bunda tidak perlu khawatir jika di usia 9 bulan si kecil belum tumbuh gigi. Keadaan ini tergolong normal dan baik-baik saja. Akan tetapi, apabila gigi pertama belum juga tumbuh sampai ia usia 18 bulan, lebih baik segera ke dokter untuk pemeriksaan.

Makanan/Minuman untuk Merangsang Pertumbuhan Gigi

Susu

Jenis minuman satu ini diketahui mengandung kalsium dan fosfor yang sangat penting untuk perkembangan tulang dan gigi bayi. Pemberian susu formula sebaiknya diberikan sesuai dengan umur bayi, dan penting untuk diperhatikan takaran gula pada susu tersebut. Meski sudah diberikan susu, tetap jadikan ASI sebagai yang utama ya Bunda.

Telur

Berbagai nutrisi, seperti protein, mineral Zn, serta vitamin A, D, E, dan B12 ada dalam telur. Semua itu sangat baik untuk tumbuh kembang si kecil. Namun pemberian telur harus memperhatikan ketahanan anak terhadap alergi ya Bunda. Pada bayi yang rentan, konsumsi telur terlalu sering dapat menimbulkan alergi.

Keju

Seperti susu, keju juga mengandung kalsium dan fosfor yang cukup tinggi yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Protein yang ada dalam keju juga cukup banyak. Karena rasanya asin, Bunda bisa mencampurkan keju pada bubur yang diberikan kepada si kecil agar mereka mau memakannya.

Bayam

Bayam terkenal dengan kandungan zat besi yang sangat baik untuk pembentukan sel darah. Dalam bayam juga terdapat vitamin C yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Meski tidak sebanyak zat besinya, bayam juga memiliki kandungan kalsium lho Bunda.

Buah Raspberry

Dibandingkan buah lain, raspberry mempunyai asam folat yang jumlahnya lebih tinggi. Buah ini juga kaya akan vitamin C dan antioksidan yang baik untuk kekebalan tubuh, pertumbuhan tulang, serta gigi si kecil. 

Meski pertumbuhan gigi bersifat genetik, sebenarnya Bunda bisa melakukan stimulasi agar giginya cepat tumbuh sejak usia kandungan 4 bulan. Caranya dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang banyak mengandung vitamin atau kalsium. Stimulasi lain, ketika bayi berusia di atas 6 bulan, mulai berikan makanan bertekstur kasar agar terbiasa mengunyah. Sehingga memasuki perkembangan bayi 9 bulan, giginya sudah terlihat tumbuh.
read more →

Mengenal Lebih Jauh Berat Normal Janin 6 Bulan Disini!

9 Tanda Hamil 6 Bulan ini Wajib Ibu Ketahui - Ibupedia
Janin 6 Bulan
Janin memiliki berat normal sudah tentu menjadi harapan setiap orang tua. Berat janin yang sesuai dengan usia kehamilan juga menjadi salah satu petanda jika kehamilan sehat. Sayangnya setiap pertumbuhan janin antara satu dengan lainnya berbeda-beda. Kondisi ini mungkin membuat bunda cukup khawatir, tapi sebenarnya hal tersebut normal-normal saja ya. Jadi, berapa sih berat ideal dan normal janin 6 bulan itu? 

Berat Normal Janin 6 Bulan 


Usia kehamilan 6 bulan dihitung mulai minggu ke-26 sampai dengan minggu ke-28. Umumnya janin memiliki berat 660-1 kilo dengan panjang sekitar 35-38 cm. Agar lebih jelas, berikut ulasannya!
Minggu ke-25

Memasuki usia 25 minggu janin memiliki berat 660 gram dengan panjang berkisar 35 cm. Tubuh janin mulai terlihat berisi lemak yang bermanfaat untuk menyeimbangkan suhu tubuhnya ketika lahir. Saraf mata janin sudah aktif sehigga jika bunda mengarahkan cahaya ke perut, Ia akan memalingkan kepalanya. 

Minggu ke-26


Di minggu ke-26 berat janin semakin bertambah yaitu 760 gram dengan panjang 36 cm. Di usianya yang menginjak 26 minggu, janin mulai bisa membuka mata dan merespon ketika mendapat sentuhan atau terkena cahaya. 

Minggu ke-27


Semakin bertambah minggu, berat janin 6 bulan juga akan bertambah sekitar 875 gram dengan panjang 36 cm. Janin mulai bisa menutup dan membuka mata, Ia juga dapat tidur dan bangun sesuai ritme tertentu.  Menurut sebagian ahli di usia ini janin mulai bisa bermimpi karena bagian otaknya sudah aktif. 

Minggu ke-28


Menginjak usia 28 minggu janin sudah bisa memutar kepalanya, selain itu janin juga mulai memiliki bulu mata yang halus. Pada usia ini bunda mungkin akan merasakan hentakan perlahan dari si kecil saat mengalami cegukan. 

Kapan Harus Konsultasi Ke Dokter Di Usia Janin 6 Bulan?


Bunda dapat mengenal janin 6 bulan berat normal melalui keterangan yang telah ditulis di atas. Lalu kapan sih bunda harus mengkonsultasikan kehamilannya di usia 6 bulan? 

Apabila bunda tidak merasakan pergerakan janin sekitar 10 gerakan perjam. Setidaknya bunda harus merasakan pergerakan janin sekitar 10 gerakan setiap 10 menit. 

  • Apabila dari waktu ke waktu bunda mengalami perdarahan di anus 
  • Jika mengalami 5 atau lebih kontraksi uterus per jam
  • Buang air kecil berdarah dari vagina
  • Buang air kecil yang menyakitkan
  • Nyeri akut atau berkepanjangan di perut
  • Muntah terus menerus
  • Nyeri pada bagian punggung bawah
  • Keluar cairan secara tiba-tiba
  • Merasakan tekanan berat di panggul bawah


Tips Untuk Menjaga Tumbuh Kembang Janin 6 Bulan 


Bunda tentu saja mengharapkan tumbuh kembang janin 6 bulan tetap sehat, untuk itu bunda bisa menerapkan beberapa tips di bawah ini!
  • Hindari posisi tubuh yang dapat memberikan tekanan berat pada kaki. Untuk menghilangkan rasa letih, sakit dan pembengkakan bunda bisa mencoba mengangkat lengan dan kaki saat berbaring setidaknya sehari sekali.  Bunda juga bisa mengkonsumsi vitamin B6. 
  • Apabila bunda mengalami kejang pada otot-otot tulang kering, bunda bisa mencoba melakukan latihan dengan menekuk lutut serta jari-jari kaki dan mengangkatnya ke arah wajah. Lakukan kegiatan tersebut secara rutin. 
  • Agar terhindar dari wasir dan sembelit, bunda bida menyiasatinya dengan membiasakan tidur dalam posisi menyamping. 
  • Mengkonsumsi obat atau supositoria berdasarkan resep.
  • Untuk menghadapi persalinan, bunda bisa membaca majalah tentang persalinan, berbagi cerita dengan ibu hamil lainnya atau mengikuti kelas persalinan. Hal itu bisa membuat perasaan bunda menjadi lebih tenang dalam menghadapi persalinan. 
  • Tidur cukup setidaknya 8 jam perhari. 


Perkembangan janin 6 bulan terkadang membuat bunda merasa tidak nyaman karenan perkembangan janin yang semakin pesat. Untuk itu bunda senantiasa harus menjaga kesehatan bunda agar janin tumbuh dengan sehat juga. 
read more →

Perkembangan Bayi 9 Bulan belum Bisa Duduk, Harus Apa?


Usia bayi yang kini memasuki 9 bulan juga berpengaruh pada semakin banyak keterampilan yang ia kuasai. Ia mungkin sudah mulai belajar duduk, merangkak, hingga bahkan berdiri. Untuk fisiknya sendiri, pertumbuhannya sangat terlihat, dengan panjang sekitar 60-80 cm dan berat badan sekitar 6-11 kg. Namun bagaimana jika sudah memasuki perkembangan bayi 9 bulan namun belum bisa duduk?

Begini Perkembangan Bayi 9 Bulan

Fisik

Sekarang kaki si kecil sudah cukup kuat untuk belajar melangkah, meski tidak semua bayi sampai tahap ini di usia 9 bulan ya, Bunda. Biasanya ia akan dengan sendirinya mencari pegangan untuk menjadi penopang. 

Dengan kekuatan kaki yang semakin baik, bayi mulai bisa menekuk lututnya dengan baik sehabis berdiri. Ia juga sudah mampu duduk sendiri karena punggungnya semakin kuat.

Seperti kaki, bahu dan tangannya sekarang juga sudah lebih kuat untuk memegang sesuatu. Giginya mulai tumbuh, dan biasanya diiringi dengan peradangan gusi. 

Motorik

Karena sudah mulai belajar berjalan, otot kaki akan meletakkan tenaga pada jari-jari kaki. Agar semakin optimal, sebaiknya tidak sering memakaikan kaos kaki pada anak ya, Bunda.

Pegangan tangannya juga semakin kuat. Gerakannya perlahan semakin cepat karena keseimbangan koordinasi antara tangan, kaki, panggul dan punggung bekerja dengan baik. Biasanya ia juga mulai tertarik dengan mainan yang perlu disusun atau bisa bergerak.

Kognitif

Rasa ingin tahu yang dimiliki si kecil akan semakin tinggi, maka tidak heran jika si kecil senang ‘bongkar pasang’ mainan. Ia juga senang mencari benda-benda yang tersembunyi. Rasa ingin tahu itu juga mendorong bayi mendorong berbagai benda ke mulutnya. Ia hanya ingin mengecek bagaimana rasa atau tekstur dari sesuatu yang tengah ia genggam. 

Jika sudah tumbuh gigi, tentunya ia berkeinginan mengunyah sesuatu. Untuk itu, berikan makanan yang sesuai dengan umurnya ya, Bunda. Pertumbuhan gigi itu membantunya dalam berbicara, sehingga ia menjadi lebih cerewet dan belajar menirukan ucapan orang dewasa. Kini ia juga sudah mulai memahami keinginannya, oleh karena itu tidak jarang ia rewel jika keinginannya tidak dipenuhi.

Emosi

Perkembangan emosinya juga semakin baik ditandai dengan kemampuan sosialnya yang semakin baik. Sebagai contoh, ia senang melambaika tangan atau memberikan ciuman ketika akan berpisah.

Ia sudah bisa mengenali orang-orang terdekat dan yang baru ia kenal. Meski begitu, si kecil sudah berani untuk berkenalan dengan orang baru. Hal lain yang juga disukainya adalah mencari perhatian, misal dengan mengajak bermain atau berekspresi menggemaskan.

Jika Bunda akan meninggalkannya untuk bekerja atau kegiatan lain, ia juga sudah mulai peka. Akan tetapi, Bunda tidak perlu khawatir karena rasa cemasnya kini sudah tidak terlalu tinggi. 

Perkembangan Bayi 9 Bulan Belum Bisa Duduk

Sebagian dari Bunda pasti khawatir jika usia si kecil sudah 9 bulan namun belum bisa duduk, sedangkan teman sebayanya sudah. Berikut beberapa kemungkinan penyebab bayi belum bisa duduk meski usianya 9 bulan:

Terlambat berkembang
Mengalami malnutrisi
Mengalami obesitas
Mengalami kelainan motorik kasar
Beberapa stimulasi yang dapat Bunda berikan untuk merangsang keterampilan si kecil adalah:
Melatih bayi untuk duduk sendiri
Mengajaknya menyanyi sambil bertepuk tangan
Membacakan dongeng singkat, misalnya sebelum tidur
Perlahan melatih si kecil untuk berdiri
Mengulang panggilan orang-orang terdekatnya agar ia semakin ingat
Mengajaknya bermain bola
Membiasakan minum dari gelas sejak dini
Memasukkan mainan kesukaannya ke dalam wadah
Jika sudah pandai berdiri, melatihnya untuk berjalan
Menghindari pemakaian baby walker

Perkembangan bayi 9 bulan memang beda-beda, tapi umumnya seperti yang sudah dipaparkan di atas. Jika Bunda merasa ada perkembangan yang kurang dari si kecil, segera konsultasikan pada dokter ya, Bunda.
read more →

Cek di Sini untuk Mengetahui Perkembangan Bayi Baru Lahir


Setelah ditunggu selama kurang lebih 9 bulan, akhirnya ia lahir ke dunia. Badannya mungil dan masih terlihat begitu rapuh. Tapi ia menjadi sumber kebahagiaan bagi yang selama ini menunggunya. Sebagai bayi yang baru saja dilahirkan, tentu ia membutuhkan perawatan tertentu agar perkembangannya optimal. Bunda, ketahui perkembangan bayi baru lahir dan hal yang harus diperhatikan untuk perkembangannya di sini.

Perkembangan Bayi Baru Lahir


Normalnya, bayi saat lahir memiliki berat badan berkisar 2,4-4,1 kg dan panjangnya 46-55 cm. Tubuhnya masih tampak melengkung seperti saat masih di dalam kandungan. Karena baru saja melewati jalan lahir yang cukup sempit, maka kepala menjadi tampak lonjong. Namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hal ini, seiring bertambahnya usia, bentuk kepalanya akan berangsur berubah.

Pada minggu pertama, bayi hanya sesekali akan membuka mata. Penglihatannya belum jauh, terbatas pada jarak 20-30 cm, yakni jarak yang sama saat Bunda menyusuinya. Meski sudah belajar memandang, ia belum mampu membedakan warna. Di penglihatannya saat itu hanya ada hitam dan putih atau nuansa abu. Kemampuan ini akan meningkat seiring bertambahnya usia.

Biasanya ia memiliki refleks untuk menggerakkan kaki atau menarik tangannya ke wajah. Ketika tidur, kepalanya akan dipalingkan. Karena ia masih sangat butuh adaptasi, maka disarankan untuk menggendongnya di dekat dada Bunda. Kontak kulit, kehangatan, dan detak jantung Bunda akan membuatnya merasa aman dan tenang.

Perkembangan Bayi Baru Lahir 3 Minggu



Memasuki usia 3 minggu, meski jarak pandangnya masih terbatas, sekarang ia akan memandang Bunda  sedikit lebih lama. Biasanya ia akan memandang Bunda selama kurang lebih 10 detik.

Bunda bisa memberikan stimulus untuk melatih fokusnya. Caranya dengan melihat lurus ke arah bayi saat menyusui. Namun di saat itu juga, gerakkan kepala Bunda secara perlahan ke lain sisi dan perhatikan apakah ia melihat itu. Stimulus ini berguna untuk melatih otot matanya dalam melacak dan mengikuti suatu benda.

Di usianya yang ke-3 minggu ini, biasanya si kecil sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan lebih leluasa.

Hal yang Penting Diperhatikan


1. Imunisasi


Ketika baru lahir, imunisasi pertama yang akan diperoleh bayi adalah Hepatitis B, polio, dan BCG. Selain ketiga imunisasi tersebut, penting juga untuk mendapat imunisasi lain, seperti DPT di 6 bulan pertama usianya. 

2. Penyakit Kuning


Fakta menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60% bayi yang mengalami sakit kuning setelah dalam kurun waktu dua minggu setelah kelahirannya. Pada saat itu, tubuh bayi masih belum bisa membuang sendiri bilirubin yang ada dalam darahnya. Hal ini membuat bilirubin tercampur dalam darah dan membuat tubuh bayi menguning.

Bunda tidak perlu terlalu khawatir akan hal ini. Jika warna kuning di tubuhnya tidak terlalu parah, bisa diatasi dengan ‘menjemur’ bayi setiap sebelum pukul 09.00 pagi. Pastikan ia minum banyak ASI agar jumlah bilirubin cepat berkurang.

3. Pemberian Susu Formula


Jika setelah melahirkan ASI Bunda masih sulit keluar, Bunda bisa menggantinya dengan susu formula. Akan tetapi hal ini harus diperhatikan dengan sangat cermat.

Di minggu-minggu awal, bayi dapat diberikan susu formula sebanyak 60-90 ml dalam sekali menyusui. Dalam sehari, bisa diberikan setiap 3-4 jam sekali. Kebutuhan tersebut biasanya akan bertambah seiring usianya bertambah.

Untuk botolnya, pilih botol susu dengan label BPA-free. Lebih baik tidak memanaskan botol, karena suhu yang tinggi dapat mengubah struktur kimia penyusun botol itu. 

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan botol dan segala peralatan yang digunakan. Terkait penyajiannya, ikuti petunjuk yang sudah ada dalam kemasan agar manfaat yang didapat untuk perkembangan bayi baru lahir semakin optimal.

read more →

Menghadapi Kehamilan Usia Janin 38 Minggu yang Belum Kontraksi


Semakin dekat dengan waktu melahirkan, dokter biasanya akan meminta Bunda untuk lebih sering melakukan kontrol kehamilan. Pemantauan dilakukan dengan USG untuk mengecek posisi dan kesiapan janin. Akan tetapi, terkadang juga ada Bunda yang belum merasakan kontraksi meski masa kehamilan sudah lebih dari 38 minggu. Kalau usia janin 38 minggu dan belum kontraksi begini, apa yang harus dilakukan?

Perubahan pada Bunda Ketika Janin 38 Minggu

Beberapa hal berikut biasanya terjadi ketika usia kehamilan memasuki minggu ke-38.

  • Braxton Hicks/Kontraksi Palsu

Gejala yang dirasakan seperti perut terasa kencang dan mungkin kram. Namun gejala tersebut akan hilang, biasanya ketika berganti posisi. Bunda tidak perlu khawatir, karena kontraksi palsu ini merupakan cara tubuh untuk bersiap menghadapi kontraksi yang sebenarnya. 


  • Perut terasa Gatal

Di masa ini, kulit perut memang menjadi lebih sensitif sehingga menimbulkan rasa gatal. Atasi dengan banyak minum air atau menggunakan krim pelembap. Tetapi bila rasa gatal cukup parah hingga menimbulkan ruam, sebaiknya Bunda segera berkonsultasi ke dokter. 

  • Keputihan 

Selama tidak berwarna dan berbau, keputihan ini normal-normal saja. Ini merupakan indikasi bahwa serviks tengah bersiap membuka jalan untuk kelahiran si janin. Meski jumlah mungkin lebih banyak dari sebelumnya, Bunda tidak perlu khawatir ya.

  • Kaki menjadi bengkak

Pembengkakan pada kaki terjadi karena bertambahnya volume darah menjelang melahirkan. Selain itu, biasanya juga terjadi penumpukan cairan di bagian bawah tubuh. Bunda dapat mengatasinya dengan rutin berjalan-jalan agar aliran darah dan cairan itu menjadi lancar.

Usia Janin 38 Minggu Belum Ada Kontraksi

Saat usia kehamilan sudah menyentuh 38 minggu, Bunda biasanya akan sering mengalami kontraksi. Namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila Bunda belum merasakan kontraksi di usia itu. Hal itu masih terbilang normal. 

Normalnya, usia kehamilan bekisar 37-41 minggu. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika kehamilan sudah memasuki 38 minggu namun belum kontraksi.

Sebagian besar bayi justru lahir dalam waktu 3-4 minggu lebih lama dari HPL/hari perkiraan lahir. Selama belum melewati waktu itu, dokter akan memilih untuk menunggu sampai Bunda merasakan kontraksi secara alami. Lain halnya jika sudah melebihi 41 minggu namun kontraksi belum muncul, maka akan dilakukan induksi untuk merangsang kontraksi. 

Masa kehamilan yang demikian sering disebut sebagai overdue pregnancy. Beberapa penyebab dari overdue pregnancy ini antara lain:

Merupakan kehamilan pertama
Bayi memiliki jenis kelamin laki-laki
Tidak diketahui tanggal yang pasti dari menstruasi terakhir
Pada kehamilan sebelumnya mengalami overdue pregnancy
Dari riwayat keluarga memang sering terjadi overdue pregnancy

Cara Merangsang Kontraksi secara Alami

1. Sering berjalan kaki

Berjalan kaki memang sehat bagi siapapun, terlebih bagi Bunda yang tengah hamil tua. Kegiatan ini akan memberikan stimulus kepada bayi agar segera keluar.

2. Menghindari stres

Dibanding kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya, kehamilan pertama memang lebih rentan terhadap stres. Akan tetapi, bagaimanapun Bunda harus ingat bahwa stres juga berpengaruh pada kontraksi. Oleh karena itu, sebaiknya sebisa mungkin Bunda menghindari segala hal yang bisa mendatangkan stres ya. 

3. Memberikan stimulus pada payudara

Cara lain yang bisa dilakukan untuk merangsang kontraksi adalah dengan memijat puting payudara. Cara ini bisa memicu tubuh untuk memproduksi hormon oksitosin. Hormon tersebut dibutuhkan untuk membuat proses menuju persalinan lebih cepat.

4. Pastikan cukup konsumsi air putih

Dengan cukup mengonsumsi air putih, maka metabolisme akan menjadi lebih lancar. Metabolisme yang lancar dapat membantu untuk merangsang kontraksi secara alami.

5. Berolahraga ringan

Melakukan olahraga ringan juga bermanfaat untuk merangsang kontraksi secara alami. Lakukan olahraga ringan setiap harinya, seperti berjalan kaki. Bunda juga bisa mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, seperti menyapu halaman atau membereskan rumah.

Sekarang Bunda sudah tahu bukan apa yang harus dilakukan ketika usia janin 38 minggu namun belum dirasakan kontraksi sama sekali?
read more →

Pentingnya Menghitung Gerakan Janin 7 Bulan


Usia kandungan 7 bulan merupakan usia yang diistimewakan. Pada usia ini, biasanya diadakan syukuran tertentu untuk mendoakan keselamatan si calon bayi dan ibunya. Di usia ini, perkembangan janin sudah nyaris sempurna. Bentuknya sudah tampak seperti seorang anak mungil yang ada dalam uterus. Gerakannya juga semakin aktif, karena itu penting bagi Bunda untuk menghitung gerakan yang dilakukan janin 7 bulan.

Perhatikan ini saat Perkembangan Bayi 7 Bulan di Kandungan


Kontraksi palsu/Braxton Hicks


Kontraksi ini lazim dialami ibu hamil pada trimester akhir. Biasanya kontraksi ini terjadi 30 detik detik sampai 2 menit. Jika Bunda bingung membedakan antara kontraksi palsu dengan asli, jangan ragu-ragu untuk bertanya pada dokter ya.

Supaya reda, kontraksi ini bisa diatasi dengan beberapa cara, seperti banyak minum air, mengubah posisi, atau berendam air hangat.

Hemoroid/wasir


Penyakit ini terjadi karena adanya pembengkakan pembuluh darah dalam anus. Kondisi ini sering ditemui ketika masa trimester ketiga, karena di usia itu sering terjadi konstipasi pada ibu hamil. Oleh karena itu, jangan anggap remeh sembelit yang terjadi ya, Bunda.

Mengonsumsi Nutrisi yang Cukup


Agar kesehatan tetap terjaga, terutama terhindar dari hemoroid, Bunda dapat melakukan beberapa hal berikut.

  • Mengonsumsi buah dan sayur karena kaya serat
  • Minum dengan jumlah cukup
  • Membatasi jumlah konsumsi suplemen peningkat zat besi
  • Membatasi penggunaan obat pencahar
  • Berolahraga teratur, minimal seminggu tiga kali
  • Cuti hamil dan melahirkan


Jika Bunda masih bekerja, Bunda bisa mengambil cuti hamil selama 3 bulan. Sebagian ada yang mengambil 3 bulan setelah bersalin atau 1,5 bulan sebelum dan 1,5 sesudah bersalin.

Mengatasi sakit punggung


Karena beratnya yang semakin bertambah, ibu hamil menjadi rentan mengalami sakit punggung di masa ini. Untuk mengatasinya, Bunda bisa sering-sering berjalan dan duduk lebih tegak.

Beberapa kondisi yang berbahaya


1. Preeklampsia

Ditandai dengan tingginya kadar protein dalam urin dan tekanan darah tinggi. Kondisi ini harus segera mendapat pertolongan.

2. Gatal yang cukup parah

Jika masih wajar, mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari gatal. Namun kalau sudah tidak tertahan lagi, bisa saja itu menjadi gejala kolestasis obstetri. Sebaiknya Bunda segera memeriksakan diri ke dokter ya.

Janin 7 Bulan Gerak Terus, Haruskah Dihitung?



Di usia kehamilan 7 bulan, gerakan janin akan lebih aktif dibandingkan sebelumnya. Gerakan tersebut memiliki pola tersendiri dan muncul di waktu-waktu tertentu. Semakin bertambah usia, biasanya gerakan akan semakin berkurang karena terbatasnya ruang gerak. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk menghitungnya agar mengetahui bahwa janin baik-baik saja. Bagaimana caranya?

Pilih waktunya


Waktu yang dipilih sebaiknya saat janin bergerak aktif, umumnya selama 5 - 6 jam sekali. Janin akan bergerak setelah Bunda makan. Atau Bunda juga bisa minum air dingin, memberi sentuhan pada perut untuk memancing janin bergerak.

Pastikan tubuh tengah relaks


Sebenarnya kegiatan ini dapat dilakukan dalam semua keadaan. Akan tetapi, akan lebih fokus ketika Bunda menghitungnya dalam keadaan relaks.

Caranya, baringkan tubuh ke samping kiri agar aorta dan pembuluh darah dibawah rahim tidak tertekan. Bunda juga bisa memilih duduk berselonjor. Kemudian letakkkan tangan di atas perut dan tekan secara perlahan. Rasakan gerakan janin bayi tengah menghuni rahim Bunda.

Cara menghitung


Cara menghitungnya sebagai berikut:

Ketika janin menendang berulang kali di waktu yang sama, gerakan ini tetap dihitung 1 kali. Contohnya, di jam 07:00 janin menendang sebanyak 10 kali, maka ini tetap dihitung 1 kali.

Kemudian, ketika di jam 08.00 ada gerakan lain, seperti memutar, maka baru bisa dimasukkan sebagai hitungan kedua. Normalnya, dalam satu kali hitungan, janin akan bergerak sebanyak 10.

Ternyata mudah kan Bunda untuk memantau perkembangan janin 7 bulan yang sudah aktif bergerak? Silakan mencobanya di rumah.

read more →

Begini lho Perkembangan Bayi 9 Bulan dalam Kandungan

perkembangan bayi 9 bulan

Bulan ke-9 merupakan periode akhir dari masa mengandung. Bunda yang usia kandungannya mencapai 9 bulan tentu sudah mulai harap-harap cemas menantikan kehadiran sang bayi. Segala persiapan dilakukan dengan baik demi menyambut hadirnya si kecil. Berikut ini hal-hal yang perlu Bunda ketahui terkait perkembangan bayi 9 bulan dalam kandungan.

Perkembangan Bayi 9 Bulan dalam Kandungan


Di usia 9 bulan, umumnya janin sudah tumbuh sepanjang kurang lebih 45 cm dan beratnya sekitar 3,2 kilogram. Biasanya berat badan itu masih akan terus bertambah sampai ia dilahirkan. Di mulut bayi sudah terbentuk otot untuk menelan cairan ketuban. Dengan demikian, pencernaannya sudah menghasilkan mekonium atau feses pertamanya.

Paru-parunya masih terus mengalami penyempurnaan dan banyak menghasilkan surfaktan. Surfaktan ini berguna untuk mencegah saling menempelnya kantung udara begitu ia mulai bernapas ketika lahir. Karena mulai belajar bernapas, janin juga sudah bisa cegukan beberapa kali.

Otak dan sistem saraf dari janin terus mengalami penyempurnaan sehingga akan dapat merespon rangsangan saat dilahirkan kelak. Detak jantungnya masih terbilang tinggi, yaitu sebanyak 120-160 detak jantung setiap menit. 

Ginjalnya menghasilkan banyak urin, bisa mencapai 1 liter setiap harinya. Tulang janin berkembang cukup pesat, meski di bagian kepala belum semuanya menyatu. Otot janin sudah jauh lebih kuat, sehingga tendangan yang dirasakan juga lebih kuat. Meski janin di usia ini masih bergerak aktif, gerakan itu mulai terbatas karena badannya yang semakin besar.

Beberapa Hal yang Perlu Dihindari


source: https://netmedis.net/braiter/wp-content/uploads/2016/09/makanan-yang-harus-dihindari-saat-hamil.jpg

1. Melakukan Rutinitas yang Berlebihan


Bila kandungan sudah memasuki usia 9 bulan, Bunda sebaiknya banyak beristirahat. Untuk beberapa pekerjaan rumah, mintalah suami untuk membantu mengerjakannya. Ganti rutinitas Bunda dengan rutinitas ringan, seperti membaca buku atau berolahraga ringan.

2. Merasa Stres


Untuk bersiap menuju persalinan memang dibutuhkan mental yang kuat. Akan tetapi, usahakan untuk tetap tenang ya Bunda. Jika ada beban pikiran yang mengganggu, cobalah alihkan dengan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan.

3. Menempuh Perjalanan Panjang


Ketika sudah hamil tua, janin tentu bisa lahir kapan saja. Oleh karena itu, sebaiknya Bunda hindari dulu menempuh perjalanan jarak jauh. Perjalanan jauh bisa saja membuat fisik Bunda kelelahan yang berpengaruh pada kondisi Bunda serta janin.

4. Sembarangan Mengkonsumsi Makanan atau Minuman


Di trimester akhir ini, sebisa mungkin Bunda hindari makanan yang dilarang oleh dokter. Beberapa jenis makanan atau minuman, seperti seafood mentah, minuman beralkohol atau berkafein sebaiknya dihindari.

5. Mengkonsumsi Durian


Jika Bunda menyukai durian, sebaiknya hindari dulu buah ini ketika hamil tua. Kandungan kolesterol, asam arachidonat, dan alkohol pada durian sangat tidak baik untuk Bunda. Ketiganya berpotensi menimbulkan risiko terganggunya perkembangan janin hingga keguguran.

Posisi Tidur Ketika Hamil Tua

source: https://www.sumpuk.net/wp-content/uploads/2019/11/Posisi-Tidur-Ibu-Hamil-1.png

1. Pilih posisi miring ke kiri


Posisi miring ke kiri merupakan posisi tidur terbaik ketika Bunda hamil 9 bulan. Tidur dengan posisi tersebut tidak akan menekan organ hati dan membantu meningkatkan sirkulasi darah. Posisi ini dianggap lebih aman dan nyaman untuk perut dan bayi dalam kandungan
.

2. Hindari posisi telentang atau tengkurap


Tepat pada bagian rahim terdapat pembuluh darah aorta dan vena cafa inferior. Jika keduanya ditekan, bisa membuat sirkulasi darah menjadi lambat. Posisi ini juga bisa membuat Bunda pusing, sulit napas, hingga mengalami gangguan pencernaan.

Selain telentang, posisi tengkurap juga kurang baik ketika hamil tua. Ketika posisi tidur tengkurap, rahim dan payudara akan mengalami tekanan oleh perut. Kondisi ini tentu kurang baik untuk kehamilan Bunda.

Agar tidur menjadi lebih nyaman dan aman, Bunda dapat melakukan beberapa hal berikut.

  • Menggunakan bantal lebih banyak, terutama jika terasa nyeri di ulu hati.
  • Menaruh bantal di bagian bawah sisi tubuh, jika napas terasa sesak.
  • Menaruh bantal di bagian bawah perut ketika berbaring ke samping untuk menopang perut. 

Sampai sini dulu ulasan mengenai perkembangan bayi 9 bulan. Semoga menambah wawasan Bunda dalam menjalani masa kehamilan ya.

read more →

Janin 38 Minggu, Bunda Harus Bagaimana?

Jika dikonversi dalam hitungan bulan, 38 minggu sama dengan 9 bulan lebih 2 minggu. Usia yang merupakan masa-masa trimester akhir dari kehamilan. Biasanya tanda-tanda melahirkan sudah mulai dirasakan, pertanda bahwa si bayi telah siap untuk hadir ke dunia. Sebenarnya apa yang umumnya terjadi janin 38 minggu, dan apa yang harus dilakukan? Berikut ulasannya.

Janin 38 Minggu Sudah Sebesar Apa?

Ketika usia janin sudah memasuki 38 minggu, janin sudah memiliki berat sekitar 3 kg bahkan lebih dengan panjang sekitar 49,8 cm. Dengan ukuran yang cukup basar, siku dan lutut dari janin harus ditekuk. Janin ini juga memiliki tali pusar yang menempel di plasenta dengan panjang antara 40-90 cm.

Sistem saraf di otaknya juga sudah saling terkoneksi dengan baik. Janin di usia ini memiliki detak jantung berkisar 120-160 denyut setiap menitnya. Berbagai organ tubuh sudah berfungsi dengan baik, meski belum optimal karena akan terus mengalami penyempurnaan seiring bertambahnya usia.

Selain itu, ada beberapa fakta lain terkait perkembangan janin di usia 38 minggu. Apa saja ya?

  • Warna iris pada mata masih bisa berubah 
  • Banyak surfaktan yang dihasilkan oleh paru-parunya 
  • Gerakan sangat terasa meski mulai berkurang karena ukuran badannya bertambah 
  • Bisa lahir kapanpun dalam rentang waktu 38-42 minggu 
  • Mengalami cegukan ketika tidak sengaja menghirup cairan ketuban

Perut Kencang ketika Janin 38 Minggu

Perut terasa kencang sebenarnya wajar dialami oleh Bunda yang tengah hamil tua. Penyebab hal tersebut, antara lain:

Perkembangan rahim dan bayi di dalamnya
Janin yang terus berkembang akan membuat otot perut tertarik sehingga menjadi lebih lebar dan bisa menimbulkan nyeri. Pengencangan perut ini umumnya akan sangat terasa di trimester akhir.

Adanya round ligament 
Selama kehamilan, ada ligamen yang mengelilingi dan menyokong uterus yang sering disebut round ligament. Biasanya ligamen ini dapat menimbulkan nyeri, yang sangat terasa di trimester kedua. Meski begitu, kondisi ini dianggap normal.

Gerakan bayi dalam kandungan
Tidak memungkiri bahwa perut yang terasa kencang tersebut bisa disebabkan oleh aktifnya gerakan janin.

Mulai kontraksi 
Kontraksi yang terjadi di trimester ketiga juga bisa membuat perut terasa kencang. Kontraksi ini ada yang palsu, dan ada juga yang kontraksi sebenarnya menjelang persalinan.

Uterus yang iritasi
Kondisi ini bisa terjadi jika otot rahim mengalami kontraksi namun tidak terjadiu perubahan di dalam serviks. Rasanya hampir mirip dengan kontraksi palsu. Akan tetapi, kondisi ini biasanya disebabkan Bunda kekurangan cairan atau istirahat.

Bila Bunda merasakan perut menjadi kencang, Bunda bisa melakukan beberapa penanggulangan sederhana sebagai berikut.
  • Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum yang cukup
  • Menghindari berpindah posisi dari tidur ke duduk, berdiri, atau sebaliknya secara tiba-tiba
  • Menggerakkan tubuh untuk berganti posisi dalam rangka merilekskan perut
  • Mandi menggunakan air hangat, atau mengompres perut dengan bantalan hangat
  • Melakukan pijat khusus kehamilan untuk mengendurkan otot yang kaku

Hal yang Harus Dilakukan saat Janin 38 Minggu

Sebenarnya normal melahirkan sebelum atau sesudah tanggal perkiraan dari dokter. Ketika usia janin memasuki 38 minggu, Bunda sebaiknya berdiskusi banyak dengan dokter, terutama terkait persiapan persalinan. 

Di usia kehamilan ini, dokter biasanya akan memantau keadaan dan kesehatan serviks, apakah sudah mulai melebar dan menipis untuk bersalin. Jika lewat satu minggu dari tanggal perkiraan, detak jantung bayi akan diperiksa dengan USG. 

Bila semakin dekat dengan batas waktu, dokter biasanya akan memeriksa panggul untuk memastikan posisi janin. Posisi yang seharusnya adalah kepala bayi berada di bawah, terletak tepat pada seluk panggung. 

Selama masa kehamilan, baik trimester pertama hingga ketiga, selalu konsultasikan obat yang akan diminum dengan dokter. Agar calon bayi selalu sehat, ikuti semua saran dari dokter ya, Bunda. Semoga ulasan mengenai beberapa hal ketika janin 38 minggu ini bermanfaat.
read more →